Monday, May 25, 2015

The Magic of Ruby Valley





Judul            :   The Magic of Ruby Valley
Judul asli     :   Ruby Holler
Penulis         :   Sharon Creech
Penerjemah :   Nadiah Abidin
Penyunting  :   Nuraini Mastura
Penerbit       :   Kaifa for Teens
Terbit            :   2005
ISBN             :   979-3659-300
Tebal             :   368 halaman, 40 gr
Rating           :   3,98 di goodreads

Sinopsis:


Dallas "si kalem" bersama saudara kembarnya, Florida "si ceriwis", telah menjalani hidup yang penuh penderitaan. Mereka nyaris melupakan mimpi-mimpi mereka karena semua kesengsaraan yang dialami. Sementara itu, Tiller dan Sairy adalah sepasang suami-istri eksentrik yang menantikan sebuah petualangan besar di akhir sisa hidup mereka. 

Ketika Tiller dan Sairy mengajak si kembar bergabung dalam perjalanan mereka, mereka mula-mula harus menetap bersama di Ruby Valley, suatu tempat yang indah sarat dengan misteri. Saat itulah, keajaiban Ruby Valley akan mengubah kehidupan mereka untuk selamanya.

Komentar pembaca:

            "I've bought it for my small daughter, but it's interesting for me too" (Borsoke)

A Postcard from Switzerland




Judul            :   A Postcard from Switzerland
Judul asli     :   Bloomability
Penulis         :   Sharon Creech
Penerjemah :   Nadiah Abidin
Penyunting  :   Nuraini Mastura
Penerbit       :   Kaifa for Teens
Terbit            :   2005
ISBN             :   979-3659-19-X
Tebal             :   348 halaman; 17 cm
Rating           :   Favorit


"A Postcard from Switzerland" adalah buku terjemahan fiksi yang cocok untuk anak-anak dan remaja. Untuk mengetahui seperti apa jalinan ceritanya, Sahabat bisa membaca ulasan yang dibuat Mumutaro dalam blog "My Story: There are Many Stories Need to be Told" di sini

Terima kasih banyak, Mumutaro, sudah membuat ulasan dan menyukai karya terjemahan saya ini. :)


Komentar pembaca: 
"Salah satu novel favorit saya" (Septi Rahmawati)
"Kisah menakjubkan yang sanggup memikat dan menjeratmu ke dalamnya" (Mumutaro)

Cewek-Cewek T.O.P B.G.T.



  • Judul                :   Cewek-Cewek T.O.P. B.G.T. 
  • Judul asli         :   Girls Who Rocked the World  dan  Girls Who Rocked the World 2
  • Penulis             :   Amelie Welden
  • Penerjemah     :   Nadiah Abidin
  • Penyunting      :   Nuraini Mastura
  • Penerbit           :   Kaifa for Teens
  • Terbit                :   2004
  • ISBN                 :   979-3659-14-9
  • Tebal                 :   224 halaman; 20,5 cm
  • Rating               :   4,76 di goodreads

"Cewek-Cewek T.O.P. B.G.T. : Kisah Inspiratif Cewek-Cewek yang Mengguncang Dunia dengan Mewujudkan Impian Mereka" adalah buku terjemahan nonfiksi pertama saya. Isi buku ini sebetulnya bersumber dari dua buku karya Amelie Welden yang berjudul Girls Who Rocked the World dan Girls Who Rocked the World 2.

Kisah-kisah yang termuat di dalamnya: 
Hatchepsut (Firaun), Sor Juana Ines de La Cruz (Cendekiawan/Penyair), Laura Bassi (Pakar Fisika), Miranda "James" Barry  (Dokter), Bronte Bersaudara (Pengarang), Ratu Victoria (Penguasa Inggris Raya), Clara Schumann (Pianis/Komponis), Harriet Tubman (Pejuang Anti Perbudakan), Florence Nightingale (Perawat), Margaret Knight (Penemu), Helen Keller (Penulis & Pembela Hak Orang Buta), Eleanor Roosevelt (Aktivis), Bessie Smith (Penyanyi), Irene Joliot-Curie (Ahli Kimia), Frida Kahlo (Pelukis), Mary Leakey (Arkeolog & Antropolog), Indira Gandhi (Pemimpin India), Penyihir-Penyihir Malam (Pilot Pesawat Tempur Perang Dunia II), Susan Eloise Hinton (Pengarang Novel), Oprah Winfrey (Presenter & Produser), Rigoberta Menchu (Aktivis Politik), Lyn Hill (Pemanjat Tebing), Wang Yani (Pelukis), Vanessa-Mae Nicholson (Pemain Biola. 

Setiap kisah menggetarkan hati. Setiap kisah dapat memberi kita keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita berani bermimpi dan berusaha. 

Komentar pembaca: 
"Belajar sehebat mereka..." (Lily Zhang, skor 5, Goodreads)

Masa Transisi di Indonesia

Tahun 1986, keluargaku pindah ke Indonesia. Awalnya aku sangat kesal karena kupikir kami hanya akan pergi berlibur dan nanti kembali ke kota kami. Kebetulan aku sudah memiliki banyak rencana bersama sahabat-sahabatku. Aku sampai tak sempat berpamitan karena orangtuaku tak menjelaskan bahwa kepergian kami akan untuk selamanya. 

Di hari-hari pertama, masa adaptasiku cukup sulit. Aku tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak tahan dengan cuaca panasnya, dan sensitif dengan gigitan serangga seperti nyamuk yang terus saja mengangguku. Syukurlah kami memiliki saudara yang bekerja sebagai kepala sekolah di Bandung. Aku dan kakak belajar berbahasa Indonesia 3 minggu di sekolahnya sebelum akhirnya pindah ke Bekasi. Selain masuk sekolah dasar, kami masuk sekolah madrasah yang terletak tak jauh dari rumah. Dari semula kesal, aku menjadi senang karena mempunyai teman-teman baru yang baik. Meski masih tak kuat dengan hawa gerahnya, aku bergembira di rumah, di sekolah, di madrasah, di klub renang, dan di sanggar tari yang aku ikuti. 

Tidak butuh waktu lama sampai aku menikmati suasana di lingkungan baruku. Kini, jika aku ditanya: Banggakah aku menjadi orang Indonesia? Jawabanku tentu saja ya! Aku bangga menjadi bagian dari putra-putri tanah air kita, tanah air Indonesia. Biarpun hidup di Jerman sangat menyenangkan, aku menyukai hidupku, pengalamanku, dan keadaanku. Jerman selalu di hatiku, tapi Indonesia adalah rumahku.   

Makna Sebuah Nama

Nama lengkapku Nadiah Abidin. Ibu pernah bercerita bahwa Nadiah berasal dari seorang atlet senam terkenal asal Rumania bernama Nadia Comaneci. Nadia memenangkan tiga medali emas olimpiade tahun 1976 di Montreal dan menjadi wanita pertama yang mendapatkan nilai sempurna 10 di sebuah event senam. (Profil hebat Nadia bisa dibaca di di sini). Ditambahkan huruf "h" pada bagian akhirnya agar selaras dengan kata yang bermuara dari bahasa Arab "Nadiah" yang berarti "awal mula sesuatu". Abidin adalah nama keluarga. Diambil dari nama ayah, Abidin berarti "ahli ibadah". Sebagai satu kesatuan, orangtuaku berharap aku bisa menjadi wanita pelopor bermental juara yang menjadi ahli ibadah dalam segala langkah yang aku ambil. Mudah-mudahan mereka merasa aku telah mewujudkan harapan mereka. Setidaknya itulah prinsip yang aku usung dari masa lalu hingga masa kini. 



Pendidikan

Seringkali aku mendapatkan pertanyaan dari anak-anak dan orangtua binaan, "buat apa sekolah kalau ujung-ujungnya nanti miskin juga?" Ah, aku tidak menyalahkan mereka. Tapi sungguhkah sekolah tidak bisa mengubah nasib seseorang? 

Jika sekolah diniatkan untuk menjadi kaya secara instan, maka itu memang hanya akan berakhir dengan kekecewaan dan kesia-siaan. Sebuah ijasah memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan layak di tengah persaingan yang kian meningkat. Tapi tanpa ilmu dan keahlian mumpuni, pekerjaan yang kita raih kemungkinan takkan bertahan lama, terasa menyiksa, atau stagnan karena kita tidak memiliki ide ataupun kemampuan untuk mengembangkannya.  

Itu sebabnya, pendidikan yang diambil perlu diselaraskan dengan bakat, minat, dan kemampuan. Pendidikan perlu disesuaikan dengan cita-cita, tujuan hidup yang kita tentukan sendiri. 

Seperti yang dilakukan ayah. Ayahku merampungkan pendidikan di 4 perguruan tinggi di Jerman bukan untuk meraih prestise sebagai dokter, melainkan untuk sungguh-sungguh belajar tentang penyakit dalam, kedokteran olahraga, gizi, dan ilmu rontgen. Dia mengumpulkan uang sendiri, sampai menjual sepeda kesayangannya, hingga dapat berangkat ke negeri orang yang tak pernah dikenalnya menggunakan pesawat pertama yang menuju ke sana. 

Ibu pun demikian. Dipicu oleh keinginan menjadi gadis yang berwawasan, ibu memilih untuk merantau dari desa ke ibukota. Sifatnya yang selalu sigap, cekatan, dan giat belajar menjadikan dirinya salah satu lulusan terbaik di sekolahnya. Tak pelak, dia mendapatkan tawaran studi lanjut keperawatan di Jerman yang tak ragu-ragu diambilnya. 

Hingga sekarang, ayah dan ibuku terus belajar dan berkarya. Ini membuatku termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Aku mungkin tak jadi dokter ataupun perawat seperti mereka, tapi aku sungguh-sungguh dengan pendidikanku, belajar untuk meraih ilmuku, bukan ijasahku.

Berikut pengalaman pendidikan di bangku sekolah yang pernah kuenyam: 

Taman Kanak-Kanak                           
Städtlicher Kindertageseinrichtung, Jerman
Sekolah Dasar                           
Marktschule Duisburg-Homberg, Jerman
SDN Babakan Priangan 3 Bandung (percobaan sekolah 3 bulan)
SDN Panca Motor 1 Bekasi
Sekolah Menengah Pertama                        
SMPN 1 Bekasi
Sekolah Menengah Atas                        
SMAN 1 Bekasi
Perguruan Tinggi            
S1 Sastra Jerman Universitas Indonesia (jalur PMDK)
S2 Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia
S2 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Indraprasta PGRI  

Ke depannya, aku ingin lanjut sekolah lagi. Aku ingin mendalami lebih banyak tentang tata cara menyelenggarakan institusi pendidikan yang berkualitas agar tak pupus dua amalan saat aku meninggal nanti: ilmu yang bermanfaat dan anak-anak yang soleh-solehah.  


Kehidupan di Jerman


Meski dilahirkan di Naila, Jerman, tempat ibuku dulu bekerja, aku lebih banyak menghabiskan masa kecilku  di Duisburg. Duisburg merupakan kota terbesar kelima di Nordhein-Westfalen. Dengan pelabuhan terbesar di Eropa, Duisburg memegang peranan penting sebagai kawasan perdagangan dan industri. (Penasaran tentang Duisburg? Baca profil singkatnya di sini). 

Sepanjang tinggal di Duisburg, aku merasa sangat bahagia. Aku memiliki orangtua yang perhatian, sahabat-sahabat yang asyik, lingkungan tempat tinggal yang aman, dan sekolah yang menyenangkan. Usia 3 tahun, orangtuaku memasukkan aku ke dalam Deutsche Lebens-Rettungs-Gessellschaft (DLRG), sebuah organisasi nirlaba yang berorientasi pada penyelamatan nyawa manusia di air. Kami secara rutin latihan renang. Usia 4 tahun aku telah bergabung di kelompok besar. Kelompok ini menjalani training di kolam sedalam 3 meter. Aku belajar renang jarak jauh, renang dengan kaki dijepit, melompat bebas dari ketinggian, dan masih banyak lagi. Setiap menuntaskan satu keahlian, aku mendapatkan satu emblem yang dijahitkan pada baju renangku. Kakakku, Rosidah, dulu punya banyak emblem. Dia telah mengikuti berbagai kejuaraan sampai tingkat wilayah. Dia seorang juara renang DLRG sejati, selain kapten sepakbola putri di sekolahnya. (Baca soal sejarah dan fungsi DLRG di sini)

Aku sendiri pun ikut bernyanyi, bermain musik, drama, dan menari di TK. Pada waktu perpisahan, aku termasuk ke dalam barisan anak yang diminta memandu teman-teman lain dalam menari dan menyanyi dari atas panggung. Hatiku bangga sekaligus senang sekali. Aku yakin orangtuaku juga merasakan hal yang sama.  

Setiap liburan, kami rajin jalan-jalan ke beragam negara, mulai dari Inggris sampai Yugoslavia. Kebiasaan ini tetap melekat sampai sekarang. Aku masih suka jalan-jalan. Suka melihat kehidupan lain yang unik di sekitarku sambil berharap belajar sesuatu yang baru. 



Zainal dan Ana



Seluruhnya berawal dari dua muda-mudi bernama Zainal dan Ana. Zainal berangkat seorang diri ke Jerman dari Kota Bekasi untuk menempuh pendidikan kedokteran sesuai kesepakatan dengan teman-teman terdekatnya buat sama-sama menggapai cita-cita tertinggi yang kelak bermanfaat bagi bangsa dan negara. Adapun Ana, seorang gadis desa dari Rancah di Ciamis, memutuskan hijrah ke Jakarta, menimba ilmu di sebuah akademi keperawatan, dan karena kecerdasannya kemudian dikirimkan ke Jerman buat memperkaya keilmuannya. Pada suatu titik, kedua muda-mudi ini bertemu. Pertama kali di kedutaan Indonesia untuk Jerman, kedua kalinya di rumah sakit tempat Ana telah bekerja sebagai kepala perawat. Mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah. Selepas kelahiran putri mereka Rosidah, lahirlah aku pada tanggal 17 Januari 1980 di Naila.