Tahun 1986, keluargaku pindah ke Indonesia. Awalnya aku sangat kesal karena kupikir kami hanya akan pergi berlibur dan nanti kembali ke kota kami. Kebetulan aku sudah memiliki banyak rencana bersama sahabat-sahabatku. Aku sampai tak sempat berpamitan karena orangtuaku tak menjelaskan bahwa kepergian kami akan untuk selamanya.
Di hari-hari pertama, masa adaptasiku cukup sulit. Aku tidak bisa berbahasa Indonesia, tidak tahan dengan cuaca panasnya, dan sensitif dengan gigitan serangga seperti nyamuk yang terus saja mengangguku. Syukurlah kami memiliki saudara yang bekerja sebagai kepala sekolah di Bandung. Aku dan kakak belajar berbahasa Indonesia 3 minggu di sekolahnya sebelum akhirnya pindah ke Bekasi. Selain masuk sekolah dasar, kami masuk sekolah madrasah yang terletak tak jauh dari rumah. Dari semula kesal, aku menjadi senang karena mempunyai teman-teman baru yang baik. Meski masih tak kuat dengan hawa gerahnya, aku bergembira di rumah, di sekolah, di madrasah, di klub renang, dan di sanggar tari yang aku ikuti.
Tidak butuh waktu lama sampai aku menikmati suasana di lingkungan baruku. Kini, jika aku ditanya: Banggakah aku menjadi orang Indonesia? Jawabanku tentu saja ya! Aku bangga menjadi bagian dari putra-putri tanah air kita, tanah air Indonesia. Biarpun hidup di Jerman sangat menyenangkan, aku menyukai hidupku, pengalamanku, dan keadaanku. Jerman selalu di hatiku, tapi Indonesia adalah rumahku.
No comments:
Post a Comment