Monday, May 25, 2015

Pendidikan

Seringkali aku mendapatkan pertanyaan dari anak-anak dan orangtua binaan, "buat apa sekolah kalau ujung-ujungnya nanti miskin juga?" Ah, aku tidak menyalahkan mereka. Tapi sungguhkah sekolah tidak bisa mengubah nasib seseorang? 

Jika sekolah diniatkan untuk menjadi kaya secara instan, maka itu memang hanya akan berakhir dengan kekecewaan dan kesia-siaan. Sebuah ijasah memperbesar kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan layak di tengah persaingan yang kian meningkat. Tapi tanpa ilmu dan keahlian mumpuni, pekerjaan yang kita raih kemungkinan takkan bertahan lama, terasa menyiksa, atau stagnan karena kita tidak memiliki ide ataupun kemampuan untuk mengembangkannya.  

Itu sebabnya, pendidikan yang diambil perlu diselaraskan dengan bakat, minat, dan kemampuan. Pendidikan perlu disesuaikan dengan cita-cita, tujuan hidup yang kita tentukan sendiri. 

Seperti yang dilakukan ayah. Ayahku merampungkan pendidikan di 4 perguruan tinggi di Jerman bukan untuk meraih prestise sebagai dokter, melainkan untuk sungguh-sungguh belajar tentang penyakit dalam, kedokteran olahraga, gizi, dan ilmu rontgen. Dia mengumpulkan uang sendiri, sampai menjual sepeda kesayangannya, hingga dapat berangkat ke negeri orang yang tak pernah dikenalnya menggunakan pesawat pertama yang menuju ke sana. 

Ibu pun demikian. Dipicu oleh keinginan menjadi gadis yang berwawasan, ibu memilih untuk merantau dari desa ke ibukota. Sifatnya yang selalu sigap, cekatan, dan giat belajar menjadikan dirinya salah satu lulusan terbaik di sekolahnya. Tak pelak, dia mendapatkan tawaran studi lanjut keperawatan di Jerman yang tak ragu-ragu diambilnya. 

Hingga sekarang, ayah dan ibuku terus belajar dan berkarya. Ini membuatku termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Aku mungkin tak jadi dokter ataupun perawat seperti mereka, tapi aku sungguh-sungguh dengan pendidikanku, belajar untuk meraih ilmuku, bukan ijasahku.

Berikut pengalaman pendidikan di bangku sekolah yang pernah kuenyam: 

Taman Kanak-Kanak                           
Städtlicher Kindertageseinrichtung, Jerman
Sekolah Dasar                           
Marktschule Duisburg-Homberg, Jerman
SDN Babakan Priangan 3 Bandung (percobaan sekolah 3 bulan)
SDN Panca Motor 1 Bekasi
Sekolah Menengah Pertama                        
SMPN 1 Bekasi
Sekolah Menengah Atas                        
SMAN 1 Bekasi
Perguruan Tinggi            
S1 Sastra Jerman Universitas Indonesia (jalur PMDK)
S2 Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia
S2 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Indraprasta PGRI  

Ke depannya, aku ingin lanjut sekolah lagi. Aku ingin mendalami lebih banyak tentang tata cara menyelenggarakan institusi pendidikan yang berkualitas agar tak pupus dua amalan saat aku meninggal nanti: ilmu yang bermanfaat dan anak-anak yang soleh-solehah.  


No comments:

Post a Comment